Melankolia
Hai jiwa yang indah,
Yang menebar wangi dalam udara yang ku hela,
yang menjadi titik-titik air pagi hari di ujung-ujung rumput manis,
saat aku menari-nari menyambut matahari.
Kamu terkonversi menjadi apa sekarang?
Hei, Ku ingat satu di antara hari kita, waktu itu.
Dalam sandyakala,
kita asik menyeruput kopi favorit kita sambil berbincang tentang fisika,
tentang wanitamu,
anak lelakimu,
anak perempuanmu yang selain aku,
lelakiku yang selain kamu,
tentang fana,
tentang indah,
amerta
dan tentang menabur bibit bunga-bunga surga.
Ahh, pecah rinduku.
Sampai bertemu lagi, sayangku!
(smartkuriesiregar)

Komentar
Posting Komentar